TNI Kuasai Kuala Penaga di Aceh Utara Usai Kontak Senjata dengan GAM
Sumber Foto: Liputan6.com
Cakra Liputan

TNI Kuasai Kuala Penaga di Aceh Utara Usai Kontak Senjata dengan GAM

Operasi militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) memasuki hari ke-12 dengan intensitas operasi TNI/Polri yang dilaporkan meningkat. Di Aceh Utara, Kampung Tuak, Kuala Penaga, Arun—wilayah yang sebelumnya disebut sempat dikuasai Gerakan Aceh Merdeka (GAM)—kini dinyatakan berada di bawah kendali Tim Detasemen Tempur (Denpur) Cakra VII TNI Angkatan Darat.

Tim beranggotakan 25 personel tersebut dilaporkan menguasai Kuala Penaga pada Jumat (30/5) siang setelah kontak senjata yang berlangsung sejak Kamis. Dalam operasi itu, pasukan yang dibantu kekuatan serangan udara disebut berhasil melumpuhkan jalur akses masuk GAM dari kawasan perairan. Saat penyisiran, tim juga menemukan jejak kaki serta base camp GAM di area rawa-rawa.

Wilayah lain dilaporkan dikuasai TNI/Polri

Sehari sebelumnya, kawasan perbukitan Naja Umbung, Kecamatan Loknga, Aceh Besar, juga dilaporkan telah berada di bawah kendali TNI/Polri setelah kontak senjata dengan GAM.

Satu warga dilaporkan tewas di Bireuen

Dari Desa Cot Glumpang, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, dilaporkan seorang warga bernama Mustafa Usman yang diklaim sebagai anggota GAM tewas tertembak pada siang hari. Jenazahnya dievakuasi keluarga dari kawasan persawahan di sekitar lokasi dan direncanakan dimakamkan pada hari yang sama.

Kepala Kepolisian Resor Masa Persiapan Kabupaten Bireuen, Komisaris Polisi Laksa Widyana, menyatakan insiden bermula ketika 50 personel polisi bersama anggota Marinir TNI Angkatan Laut menggelar razia senjata. Di tengah perjalanan, iring-iringan yang terdiri dari empat tank Marinir dilaporkan ditembaki, sehingga terjadi kontak senjata sekitar 30 menit. Setelah itu, warga setempat menemukan Mustafa dalam kondisi meninggal.

20 anggota GAM menyerahkan diri di Sabang

Sementara itu, 20 anggota GAM yang menyerahkan diri ke Markas Komando Rayon Militer di Pulau Sabang pada Kamis sebelumnya, dilaporkan telah dibawa ke Banda Aceh pada Jumat. Mereka tiba sekitar pukul 11.00 WIB menggunakan kapal perang TNI AL Simelue dan kemudian ditempatkan di Markas Komando Distrik Militer Banda Aceh untuk pemeriksaan.

Pemeriksaan diprioritaskan untuk mengetahui biodata, motivasi bergabung, serta tujuan penyerahan diri kepada NKRI. Penanganan kasus penyerahan diri tersebut direncanakan segera dilimpahkan kepada Polisi Militer Banda Aceh.

Prajurit TNI tewas di Aceh Besar

Kontak senjata juga dilaporkan terjadi pada Jumat sekitar pukul 08.00 WIB di Desa Lhok Keutapang, Ujung Pancu, Lamteh, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, sekitar 25 kilometer dari Banda Aceh. Dalam peristiwa itu, Prajurit Kepala TNI Muhammad Nuhi Lubis dilaporkan tewas tertembak saat hendak membersihkan lokasi kejadian setelah kontak senjata sekitar 30 menit.

Korban disebut terkena tembakan di bagian pipi yang menembus ke belakang kepala. Dalam kejadian yang sama, dua anggota GAM dilaporkan tewas dan dua pucuk senjata jenis AK-47 disita.

Jenazah Praka TNI Anumerta Muhammad Nuhi Lubis, anggota Kompi Rajawali Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Komando Cadangan Strategis TNI AD, diterbangkan ke Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB setelah disemayamkan di Rumah Sakit Kesehatan Kodam 0101 Aceh Besar. Jenazah diperkirakan tiba di Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB, sebelum dibawa ke kesatuannya di Karawang, Jawa Barat.

Korban tewas sehari sebelumnya dan catatan operasi

Sehari sebelumnya, dua prajurit juga dilaporkan tewas setelah bentrokan bersenjata di Desa Pusong, Aceh Tamiang. Keduanya adalah Komandan Rayon Militer 03 Seruai Kapten Infanteri Asrin Anhar dan Prajurit Kepala Balaji Lahagu dari Yonif 122.

Menurut catatan TNI hingga hari ke-11 pemberlakuan operasi militer di NAD, jumlah anggota GAM yang dilaporkan mati, menyerah, dan ditahan mencapai 136 orang.