Tantangan Ganda Jabatan Bupati dan Ketua KONI di Pidie Jaya
Sumber Foto: liputan gampong news
Cakra Liputan

Tantangan Ganda Jabatan Bupati dan Ketua KONI di Pidie Jaya

Polem Beuransah dan Pawang Beurandeh, dua tokoh masyarakat, baru-baru ini mengungkapkan pandangan mereka mengenai situasi kepemimpinan di Pidie Jaya. Dalam percakapan yang menggambarkan kekhawatiran dan skeptisisme mereka, Polem menyatakan, "Berat kali jaring ini… kayak narik beban dua jabatan!" Sementara itu, Pawang menanggapi dengan nada lebih santai, "Ssst… jangan keras-keras, nanti dikira kita nyinyir… padahal cuma rakyat kecil narik nasib."

Salah satu poin penting yang dibahas adalah terpilihnya bupati setempat sebagai Ketua KONI. Polem mencatat, "Nyoe Ka Meutajoe-tajoe Pawang, Kau tau tak, bupati kita jadi Ketua KONI juga!" Pawang menanggapi dengan sindiran bahwa meskipun bupati terjun ke dunia olahraga, panggung tetap sama, hanya kostumnya yang berbeda.

Ketidakpastian dan Kritik Terhadap Kepemimpinan

Polem mengungkapkan keheranannya mengenai kurangnya calon alternatif dalam kepemimpinan olahraga di daerah tersebut. "Polem: Pidie Jaya ini tak punya orang lain yang paham olahraga kah?" Pawang menjawab, "Ada! Tapi belum punya jabatan yang setara Bupati.” Hal ini menyoroti minimnya calon yang berkompeten dalam bidang olahraga di tingkat lokal.

Polem juga menyoroti bahwa semua cabang olahraga tampak tunduk pada kekuasaan bupati. Pawang menambahkan, "Ini bukan olahraga prestasi lagi, ini olahraga kekuasaan." Mereka sepakat bahwa jika ada kegagalan dalam penyelenggaraan PORA, atlet yang akan disalahkan, sementara pemimpin akan tetap dianggap sebagai ‘fasilitator’ saat terjadi kemenangan.

Realitas Jabatan dan Aspirasi Rakyat

Pawang mencermati bahwa istilah baru yang muncul adalah “Masyarakat Mandiri Penuh Jabatan,” sementara Polem menunjukkan bahwa KONI yang dulunya berfungsi untuk mencari bibit atlet kini menjadi tempat untuk mencari suara politik. Keduanya mempertanyakan kenapa rakyat tampak diam. Pawang menjelaskan, "Rakyat bukan diam, mereka sibuk pilih kata yang tak bikin dilabel ‘tak tahu bersyukur’.”

Sebagai penutup diskusi, Polem dan Pawang menyimpulkan bahwa meskipun ada semangat untuk mencapai prestasi tertinggi, yang menjadi pertanyaan adalah, prestasi siapa yang sedang dicari? Apakah itu prestasi atlet atau portofolio politik? Mereka berharap agar ke depannya, KONI bisa kembali menjadi tempat bagi orang-orang yang hidup dari dan untuk olahraga, bukan semata-mata jabatan.