Rumah Tipis dan Terdistorsi Muncul Usai Proyek Jalan di Hanoi
Sumber Foto: Vietnam.vn
Hukum

Rumah Tipis dan Terdistorsi Muncul Usai Proyek Jalan di Hanoi

Cakra Media - Fenomena rumah ultra-tipis dan terdistorsi terus terjadi di Hanoi setelah penggusuran lahan untuk proyek transportasi. Meskipun proyek pembangunan belum selesai, banyak bangunan baru dengan fasad sempit dan bentuk tidak beraturan telah muncul di lahan sisa.

Awal Kejadian

Selama bertahun-tahun, rumah-rumah tipis telah menjadi konsekuensi umum dari penggusuran lahan untuk proyek transportasi di Hanoi. Pada proyek Jalan Lingkar 1 dari Hoang Cau ke Voi Phuc, terlihat bangunan dengan lebar hanya beberapa meter, dan beberapa memiliki bentuk segitiga atau trapesium runcing. Situasi serupa juga terjadi di proyek pelebaran Jalan Nguyen Tuan dan Jalan Lingkar 2.5.

Perkembangan

Walaupun ada arahan dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini, fenomena rumah tipis terus berulang setelah setiap proyek pelebaran jalan. Profesor Dang Hung Vo, mantan Wakil Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan, menyatakan bahwa penyebab utama berasal dari metode akuisisi lahan yang tidak memadai. Banyak lahan yang tersisa setelah pembersihan terlalu kecil atau berbentuk tidak beraturan, sehingga memicu munculnya rumah-rumah yang tidak layak.

Bapak Vo mengusulkan agar lahan yang tidak dapat dibangun sebaiknya digunakan untuk kepentingan umum, seperti taman atau papan pengumuman, alih-alih hanya direklamasi sesuai batas garis merah. Sementara itu, pengacara Nguyen Van Dinh dari Asosiasi Advokat Hanoi menambahkan bahwa Undang-Undang Pertanahan 2024 telah memberikan mekanisme untuk menangani lahan sisa setelah pengambilalihan, namun implementasinya masih terganjal masalah kesepakatan antar pemilik lahan.

Kondisi Terakhir

Menurut Bapak Dinh, meskipun ada peraturan hukum, kendala terbesar adalah tergantungnya konsolidasi lahan pada kesepakatan pemilik lahan yang bersebelahan. Jika tidak ada kesepakatan mengenai harga atau kebutuhan transaksi, lahan yang sangat sempit tetap dapat bertahan. Selain itu, perbedaan nilai tanah saat menggabungkan bidang tanah juga menjadi masalah, di mana pemilik lahan sering kali tidak sepakat mengenai harga karena perbedaan pandangan tentang nilai lahan yang tersisa.