Penghijauan di Sungai Beuracan: Harapan Baru Usai Bencana
Sumber Foto: liputan gampong news
Cakra Liputan

Penghijauan di Sungai Beuracan: Harapan Baru Usai Bencana

Sungai Beuracan di Gampong Kuta Trieng bukan hanya sekadar aliran air bagi masyarakat setempat. Sungai ini menyimpan kenangan pahit dari bencana banjir yang pernah melanda, merusak tanah dan kebun, serta meninggalkan ketakutan setiap kali hujan turun. Namun, di lokasi yang sama, harapan perlahan ditanam kembali melalui kegiatan penghijauan.

Personil Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, bersama relawan Artha Graha Peduli dan Pemuda Cakra Donya, melakukan penghijauan di bantaran sungai dengan menanam 350 pohon Keutapang. Dalam kondisi terik matahari, mereka bergotong royong berusaha memulihkan alam yang telah terluka.

Pohon Keutapang dipilih karena kemampuannya dalam menahan erosi, serta diharapkan dapat menjadi penyangga alami bantaran sungai dan peneduh bagi generasi mendatang. Setiap bibit yang ditanam seakan menjadi simbol harapan agar bencana serupa tidak terulang. "Kami ingin alam kembali ramah kepada manusia, dan manusia belajar lebih peduli kepada alam," ungkap salah satu personil KPH II di sela kegiatan.

Bagi warga setempat, kegiatan ini mengundang emosi yang sulit disembunyikan. Faisal, seorang pemuda Gampong Kuta Trieng, mengungkapkan, "Saat banjir kemarin, kami hanya bisa pasrah. Malam-malam kami tidak tidur karena takut air naik lagi. Hari ini rasanya berbeda. Melihat mereka datang, menanam pohon dengan tangan sendiri, kami merasa ada yang peduli dengan nasib kami."

Nilawati, salah seorang warga yang rumahnya dekat dengan bantaran sungai, juga tidak bisa menahan air mata saat menyaksikan kegiatan tersebut. "Setiap hujan deras, kami selalu waswas. Pohon-pohon ini bukan hanya untuk tanah, tapi untuk menenangkan hati kami. Ini harapan hidup bagi kami dan anak-anak kami," ujarnya lirih.

Pohon Keutapang yang ditanam diyakini dapat memperkuat struktur tanah dan mencegah erosi. Namun, lebih dari itu, pohon-pohon tersebut menjadi simbol kehadiran negara dan solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat yang masih menyimpan trauma akibat bencana.

Ketua Tuha Peut Gampong Kuta Trieng, Aiyub, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada personil KPH II dan seluruh Relawan Artha Graha Peduli atas penanaman pohon Keutapang di bantaran sungai. Kegiatan ini dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kepedulian kemanusiaan, bukan sekadar program teknis kehutanan.

“Kami datang bukan hanya sebagai petugas, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang ikut merasakan dampak bencana,” ujar salah satu personil KPH II. “Penghijauan ini adalah ikhtiar bersama. Kami ingin masyarakat merasa lebih aman, dan alam kembali seimbang. Jika alam dijaga, Insya Allah bencana bisa diminimalkan.”

Keterlibatan relawan dan pemuda lokal menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dalam menjaga lingkungan. "Pemulihan pascabencana tidak bisa dilakukan sendiri. Ini kerja hati, kerja bersama," tambahnya.

Hari itu, di bantaran Sungai Beuracan, muncul harapan baru di tengah bekas bencana. Rasa takut perlahan dilepaskan, air mata berubah menjadi harapan, dan keyakinan baru tumbuh bahwa kehidupan masih bisa berkembang, lebih hijau dan lebih manusiawi.