Anies Baswedan Memegang Tongkat Pusaka Cakra Pangeran Dipenogoro: Simbol dan Makna di Balik Momen Viral
Sumber Foto: Tribunnews.com
Cakra Liputan

Anies Baswedan Memegang Tongkat Pusaka Cakra Pangeran Dipenogoro: Simbol dan Makna di Balik Momen Viral

Jakarta - Anies Baswedan, yang merupakan bakal calon Presiden Republik Indonesia, menjadi sorotan di media sosial setelah terlihat memegang Tongkat Pusaka Cakra Pangeran Dipenogoro. Momen ini memicu banyak perhatian karena simbolisme yang mendalam dari tongkat tersebut dalam konteks sejarah dan mitologi Jawa.

Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro, yang merupakan artefak penting bagi Pangeran Dipenogoro, memiliki panjang 153 sentimeter dan dihiasi simbol cakra di ujungnya. Menurut penelusuran sejarahwan Peter Carey, cakra sering digambarkan berada di tangan Dewa Wisnu dalam mitologi Jawa, yang dianggap sebagai penguasa dunia. Hal ini mengaitkan tongkat tersebut dengan konsep kedatangan Sang Ratu Adil atau Erucakra, serta perjuangan Diponegoro yang dianggap sebagai perang suci untuk memulihkan tatanan moral demi kesejahteraan rakyat.

Diponegoro menganggap perjuangannya sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan dalam masyarakat, dengan simbol cakra dan panah yang menyilang sebagai panji pertempurannya. Momen viral Anies Baswedan ini juga mengingatkan publik akan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, khususnya terkait pengembalian Tongkat Pusaka Cakra Pangeran Dipenogoro dari Belanda ke Indonesia.

Kisah Pengembalian Tongkat Pusaka

Pengembalian Tongkat Pusaka Cakra Pangeran Dipenogoro terjadi pada tahun 2015, saat pembukaan pameran "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini" di Galeri Nasional, Jakarta. Tongkat tersebut dipulangkan setelah 181 tahun disimpan oleh keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jean Chretien Baud.

Dalam acara tersebut, Anies Baswedan yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu mengucapkan terima kasih kepada keluarga Baud. "Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, kami berterima kasih kepada keluarga Baud yang telah menyimpan dengan baik dan memulangkan pusaka tongkat Diponegoro ini kembali ke Pulau Jawa," ujarnya.

Sejak saat itu, Tongkat Pusaka tersebut disimpan di Museum Nasional sebagai artefak penting bagi bangsa Indonesia. Menurut Peter Carey, tongkat ini diperoleh Diponegoro dari warga sekitar tahun 1815 dan digunakan selama ziarah di daerah Jawa selatan, sebelum pertempuran melawan Hindia Belanda dimulai pada tahun 1825.

Artefak Sejarah Lainnya

Selain Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro, pameran tersebut juga menampilkan artefak bersejarah lainnya yang berkaitan dengan Pangeran Dipenogoro, seperti tombak Rondhan dan pelana kuda. Artefak-artefak ini sebelumnya juga berada di Belanda setelah dirampas oleh pasukan Hindia Belanda saat menyerang Diponegoro pada tahun 1829. Beberapa di antaranya, seperti tombak Rondhan dan pelana kuda, telah dipulangkan ke Indonesia pada tahun 1978.

Seiring dengan kembalinya tongkat dan artefak lainnya, kisah Pangeran Dipenogoro terus diingat dan dipelajari sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan.