Aksara Jawa: Lebih dari Klenik, Memiliki Makna yang Mendalam dalam Perspektif Sains
Sumber Foto: Mojok.co
Cakra Liputan

Aksara Jawa: Lebih dari Klenik, Memiliki Makna yang Mendalam dalam Perspektif Sains

Aksara Jawa sering kali dipandang sebagai simbol klenik atau mantra yang tidak memiliki dasar logis. Namun, jika ditelaah lebih jauh, aksara ini sebenarnya menyimpan makna yang dalam dan dapat dipahami melalui pendekatan sains.

Rendra Agusta, seorang filolog dan praktisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), berbagi pengalamannya saat kecil ketika ia merapal “carakan walik” sambil memegang telur. Rendra berharap telur tersebut tidak menetas menjadi anak ayam meskipun dierami oleh induknya, dan itu pun terjadi sesuai harapannya. Carakan walik sendiri berisi susunan aksara Jawa yang dibaca terbalik, dengan makna sebagai penolak kekuatan negatif.

Makna Aksara Jawa yang Tersembunyi

Carakan walik terdiri dari rangkaian aksara yang memiliki arti mendalam: “Tidak ada kematian,” “tidak ada kejahatan,” “tidak ada peperangan,” dan “tidak ada utusan.” Masyarakat Jawa meyakini bahwa mantra ini berfungsi untuk menolak bala, seperti santet dan malapetaka.

Namun, seiring berjalannya waktu, aksara Jawa semakin terpinggirkan oleh tradisi-tradisi asing. Rendra menyatakan bahwa aksara Jawa seharusnya dipandang sebagai simbol kebudayaan yang tinggi, bukan sekadar ajian atau mantra. Ia menjelaskan bahwa aksara berasal dari kata 'a' yang berarti 'tidak' dan 'kesara' yang berarti 'musnah'. Dengan demikian, aksara digunakan untuk menyimpan pengetahuan agar tidak musnah.

Perkembangan Aksara Jawa

Rendra menjelaskan bahwa aksara Jawa yang dikenal saat ini terdiri dari 20 huruf, yang merupakan aksara baru. Sementara masyarakat Jawa kuno menganggap aksara tertinggi adalah 'ong' atau 'hong', yang sering digunakan dalam doa. Dalam tradisi kuno, 'ong' melambangkan kekosongan yang utuh dan digunakan untuk memohon agar tidak ada rintangan.

Perubahan ini, menurut Rendra, dipengaruhi oleh tradisi dari berbagai budaya, termasuk Arab, Tionghoa, dan Eropa. Oleh karena itu, cara penerapan mantra pun mengalami pergeseran, tidak hanya terbatas pada pengucapan tetapi juga pengukiran dan menggambar.

Mantra sebagai Doa Keselamatan

Rendra menegaskan bahwa mantra tidak akan efektif jika hanya diucapkan tanpa pemahaman yang mendalam. Sebagai contoh, dalam mantra rajah kalacakra, terdapat kalimat yang mengandung makna mendalam tentang kasih sayang, kebaikan, dan kemerdekaan. Meskipun sekilas tampak hanya dibolak-balik, ada banyak bahasa Jawa kuno yang menyimpan makna yang dapat menyelamatkan kehidupan.

Pemahaman Palindrom dalam Aksara Jawa

Proses pembalikan kata dalam aksara Jawa dikenal dengan istilah caraka walik, yang bertujuan untuk mengembalikan tatanan dunia ke kondisi semula. Dalam konteks ini, telur yang dimaksud dalam pengalaman Rendra melambangkan simbol kehidupan dan kelahiran kembali, serta hubungan antara tiga dunia: sakala, sakala niskala, dan niskala.

Melalui pemahaman ini, aksara Jawa bukan hanya berfungsi sebagai mantra tetapi juga sebagai alat untuk mengenal diri dan mengembalikan keseimbangan dalam hidup. Rendra menekankan bahwa masyarakat Jawa percaya bahwa alam akan mendukung mereka saat mereka bersahabat dengan ketiga dunia tersebut.