Tren Diet Berbahaya: Plastik Pembungkus Makanan Jadi Alat Menipu Otak
Sumber Foto: Liputan6.com
Lifestyle

Tren Diet Berbahaya: Plastik Pembungkus Makanan Jadi Alat Menipu Otak

Cakra Media - Liputan6.com, Beijing - Tren diet ekstrem yang viral di media sosial Tiongkok memicu kekhawatiran kalangan medis setelah sejumlah anak muda terekam menutup mulut dengan plastik pembungkus makanan saat makan, demi menghindari asupan kalori.

Dalam video yang beredar luas, para pelaku tren tersebut membungkus mulut mereka dengan plastik bening, lalu berpura-pura mengunyah makanan tanpa benar-benar menelannya. Setelah proses “mengunyah” selesai, makanan dikeluarkan dan dibuang.

Situs Oddity Central melaporkan pada 26 Februari 2025 bahwa praktik ini diklaim sebagai cara untuk “menipu otak” agar merasa kenyang tanpa benar-benar mengonsumsi kalori. Plastik pembungkus makanan disebut-sebut berfungsi sebagai penghalang fisik agar makanan tidak masuk ke tubuh, sementara aktivitas mengunyah diyakini cukup untuk memicu sensasi kenyang.

Namun, klaim tersebut langsung menuai kritik dari para ahli kesehatan. Mereka menegaskan bahwa mensimulasikan proses makan tanpa menelan makanan tidak memberikan energi maupun nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Sebaliknya, kebiasaan itu dinilai berpotensi meningkatkan dorongan makan berlebihan di kemudian hari karena tubuh tetap berada dalam kondisi kekurangan asupan.

Sejumlah pakar juga memperingatkan bahwa tren tersebut menunjukkan gejala perilaku yang mengarah pada gangguan makan, seperti bulimia dan anoreksia. Pola ini dinilai berbahaya karena melatih otak untuk mencari kepuasan dari rasa dan tekstur makanan tanpa asupan kalori, sebuah mekanisme yang dapat memperburuk hubungan psikologis seseorang dengan makanan.

Selain risiko gangguan makan, praktik mengunyah plastik pembungkus juga berpotensi menyebabkan paparan mikroplastik. Gesekan antara gigi dan plastik dapat melepaskan partikel-partikel kecil yang tercampur dengan air liur, lalu masuk ke sistem pencernaan atau pernapasan. Paparan mikroplastik dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, meski dampaknya masih terus diteliti.

Awalnya dianggap sebagai eksperimen diet yang nyeleneh, tren ini dengan cepat berkembang menjadi fenomena viral dan meraup jutaan tayangan di berbagai platform media sosial. Kontroversi pun meluas, dengan banyak warganet dan tenaga medis menyerukan perlunya edukasi publik terkait bahaya diet ekstrem yang tidak berbasis sains.

Otoritas kesehatan setempat belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun para ahli menekankan pentingnya pendekatan penurunan berat badan yang sehat dan terukur, alih-alih mengikuti tren daring yang berisiko membahayakan kesehatan fisik maupun mental.