Prof Ambo Asse: Tauhid Sebagai Poros Gerakan Muhammadiyah
Sumber Foto: khittah.co
Poros Berita

Prof Ambo Asse: Tauhid Sebagai Poros Gerakan Muhammadiyah

Cakra Media - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof Ambo Asse, menegaskan pentingnya tauhid sebagai dasar gerakan dan amal usaha Muhammadiyah dalam Pengajian Ramadan 1447 H di Pesantren Darul Arqam Gombara.

Awal Kejadian

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Prof Ambo mengajak warga Muhammadiyah untuk menelusuri akar akidah organisasi dari perspektif ideologis dan historis. Ia menyatakan bahwa tauhid bukan hanya sekedar doktrin teologis, melainkan juga sebagai landasan yang mendorong pembaruan dalam kehidupan umat.

Perkembangan

Prof Ambo menjelaskan bahwa dinamika akidah dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah munculnya berbagai aliran setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ia menguraikan bahwa peristiwa politik pada masa Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah melahirkan perbedaan paham yang kemudian menjadi berbagai aliran teologi, termasuk Sunni dan Syiah. Dalam konteks Muhammadiyah, ia menegaskan bahwa organisasi ini mengklaim dirinya sebagai bagian dari Sunni, tanpa terikat pada mazhab tertentu.

Dalam paparan lebih lanjut, Prof Ambo membahas genealogi Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan. Ia menjelaskan bahwa Dahlan terpengaruh oleh ulama Nusantara dan pemikir pembaruan. Dari pemahaman tersebut, lahir gagasan untuk kembali kepada Al Quran. Prof Ambo mengingatkan agar istilah yang digunakan tepat, menegaskan bahwa yang dimurnikan adalah pemahaman dan pengamalan, bukan ajaran agama itu sendiri.

Ia juga menyoroti konteks sosial Indonesia pada masa itu yang mempengaruhi distorsi akidah dan identitas serta kegagalan pendidikan dalam menanamkan ajaran Islam yang murni. Prof Ambo menunjukkan komitmen KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan sekolah untuk memperbaiki pendidikan agama di kalangan umat.

Kondisi Terakhir

Di akhir materinya, Prof Ambo menegaskan bahwa akidah Islam mencakup dimensi spiritual, sosial, dan institusional. Ia menekankan bahwa pengelolaan amal usaha Muhammadiyah harus berlandaskan pada tauhid, yang menjadi fondasi bagi semua aktivitas. Ia mengutip Surah Al Ikhlas untuk memperkuat pemahaman tentang tauhid dan menekankan pentingnya menanamkan akidah Islam sebagai spirit dalam kehidupan, organisasi, dan ibadah.