Prabowo Dukung Pembentukan Poros Global South di Tengah Memudarnya Hegemoni Amerika
Sumber Foto: wartatangerang.com
Poros Berita

Prabowo Dukung Pembentukan Poros Global South di Tengah Memudarnya Hegemoni Amerika

Cakra Media - Diskusi mengenai memudarnya dominasi Amerika Serikat dalam sistem dunia berlangsung di Forum Arus Dunia bersama Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (GKB-NU) di Jakarta Selatan. Dalam forum ini, diungkapkan bahwa hegemoni Amerika Serikat kini mengalami penurunan menuju tatanan dunia multipolar.

Awal Kejadian

Ketua Umum GKB-NU Hery Haryanto Azumi menilai kemunduran hegemoni Amerika Serikat merupakan proses yang hampir tidak dapat dipulihkan. Ia menjelaskan bahwa dominasi global Washington saat ini terjebak dalam berbagai kontradiksi internal, yang perlahan menggerogoti fondasi kepemimpinannya.

Perkembangan

Hery merinci bahwa dominasi Amerika Serikat mencapai puncaknya setelah Perang Dunia II, saat negara-negara besar mengalami kehancuran. Dalam konteks pembagian pengaruh global, Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan utama, bersama Uni Soviet. Hery juga mencatat bahwa Amerika meluncurkan Marshall Plan untuk memulihkan ekonomi negara-negara Eropa Barat dan menerapkan kebijakan serupa di Asia Timur.

Hery membagi sejarah geopolitik global menjadi tiga fase utama: periode 1945–1970 sebagai puncak hegemoni Amerika, fase 1970–2001 ketika dominasi mulai melemah, dan periode sejak 2001 hingga sekarang yang ditandai dengan upaya Amerika untuk memulihkan posisinya, namun justru mempercepat erosi kepemimpinannya.

Pada diskusi tersebut, Hery juga menyoroti perubahan peta kekuatan global pasca tragedi 9/11, di mana Amerika Serikat meluncurkan Global War on Terrorism. Hal ini membuka ruang bagi kebangkitan Tiongkok, terutama setelah Tiongkok bergabung dengan World Trade Organization (WTO) pada 2001, yang memungkinkan negara tersebut memperluas pengaruhnya secara global.

Kondisi Terakhir

Hery menilai Indonesia memiliki peluang strategis sebagai middle power dalam membentuk tatanan dunia baru, terutama di tengah ketidakpastian global. Ia menyebutkan posisi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan keterlibatan dalam forum internasional seperti BRICS dapat memperbesar poros Global South. Hery menegaskan bahwa agenda Global South bukan untuk menciptakan konflik baru, melainkan untuk mendorong terciptanya sistem dunia yang lebih adil dan seimbang.