Perundingan AS-Iran di Jenewa Tunjukkan Kemajuan Meski Tanpa Kesepakatan
Cakra Media - Geneva (beritajatim.id) – Putaran terbaru perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir pada Kamis (26/2/2026) di Geneva, Switzerland. Meski belum menghasilkan kesepakatan resmi, kedua pihak mengklaim terjadi kemajuan signifikan dibanding pertemuan sebelumnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyebut putaran ketiga ini sebagai perundingan paling serius dan paling panjang sejak dialog kembali dibuka awal Februari lalu. Diskusi, menurutnya, telah memasuki tahap pembahasan elemen-elemen konkret terkait potensi kesepakatan, khususnya menyangkut program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi.
Perundingan berlangsung di tengah tekanan geopolitik tinggi. Dua kelompok kapal induk AS dan lebih dari 100 jet tempur dilaporkan bersiaga di kawasan Timur Tengah, mencerminkan salah satu penumpukan militer terbesar Washington di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Awal Negosiasi: Muscat dan Isu Nuklir
Dialog bilateral ini pertama kali digelar pada 6 Februari 2026 di Muscat, Oman, melalui mediasi Oman. Delegasi AS dipimpin oleh utusan Timur Tengah Steve Witkoff dan Jared Kushner, sementara pihak Iran dipimpin Araghchi.
Pada tahap awal, pembahasan difokuskan pada isu nuklir. Iran menolak usulan pemindahan uranium ke luar negeri serta menegaskan bahwa kemampuan rudal merupakan aspek pertahanan yang tidak dapat dinegosiasikan. Di sisi lain, Washington berupaya memasukkan pembatasan persenjataan rudal dalam agenda diskusi.
Meski berlangsung dalam suasana yang disebut konstruktif, kedua pihak saat itu mengakui bahwa membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu.
Kesepahaman Prinsip di Jenewa
Putaran kedua yang berlangsung 17 Februari di Jenewa menghasilkan kesepahaman awal mengenai prinsip-prinsip umum sebagai dasar penyusunan teks kesepakatan potensial. Fokus pembahasan tetap pada program nuklir Iran dan kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa pemerintah AS telah menetapkan sejumlah garis merah yang belum sepenuhnya dapat diterima pihak Iran. Pernyataan tersebut mengindikasikan masih adanya perbedaan mendasar dalam negosiasi.
Perundingan itu juga berlangsung bersamaan dengan pengumuman latihan militer Iran serta penutupan sementara sebagian wilayah Selat Hormuz, yang meningkatkan kekhawatiran pasar energi global.
Kemajuan Signifikan dan Agenda Wina
Putaran ketiga kembali digelar di Jenewa dan disebut mencatat kemajuan signifikan. Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi, menilai kedua delegasi menunjukkan keterbukaan terhadap ide-ide baru dan solusi kreatif.
Diskusi kini telah bergerak ke tingkat teknis yang lebih mendalam, mencakup detail implementasi dan mekanisme pengawasan. Pertemuan lanjutan tingkat teknis dijadwalkan berlangsung pekan depan di Vienna, Austria.
Meski belum ada kesepakatan final, jalur diplomasi antara Washington dan Teheran dinilai kembali aktif setelah periode ketegangan panjang. Hasil perundingan ini berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, dinamika pasar energi global, serta hubungan geopolitik kedua negara dalam jangka panjang. (ian)




