Peran Indonesia dalam BRICS: Penggerak Poros Timur dan Keseimbangan Global
Jakarta (ANTARA) - Pada abad ke-20, dominasi ekonomi dan politik global terpusat di Barat, terutama di tangan Amerika Serikat dan Eropa. Namun, saat ini, Asia dan kawasan Timur semakin menunjukkan peran signifikan dalam menentukan arah tatanan dunia.
Pertumbuhan pesat yang terjadi di Asia, dengan China, India, dan negara-negara di Asia Tenggara sebagai penggerak utamanya, telah menciptakan daya tawar baru dalam arena politik dan ekonomi internasional. Populasi yang besar, daya konsumsi yang tinggi, serta industrialisasi yang cepat menjadi faktor penting dalam kekuatan ini.
Dengan kekuatan ekonomi yang terus berkembang, negara-negara Asia kini memiliki kemampuan untuk berperan lebih seimbang dalam dinamika global. Dalam konteks ini, BRICS muncul sebagai simbol multipolaritas. BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, secara kolektif menyumbang lebih dari 30 persen dari PDB global dan mencakup sekitar 40 persen populasi dunia, menawarkan alternatif terhadap dominasi Barat yang semakin menarik minat negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, resmi bergabung dengan BRICS pada awal 2025. Posisi ini memungkinkan Indonesia untuk menjadi jembatan antara BRICS, ASEAN, dan negara-negara Barat. Keterlibatan Indonesia sejalan dengan politik luar negeri bebas-aktif yang diusungnya, yang bertujuan untuk mendorong keseimbangan global.
Peran Strategis BRICS dalam Stabilitas Global
BRICS memiliki peranan strategis dalam menjaga stabilitas global, yakni dengan menyeimbangkan dominasi Barat dan menyediakan ruang bagi diplomasi alternatif yang lebih representatif bagi negara-negara berkembang. Penguatan solidaritas negara-negara Global South juga menjadi salah satu fokus utama BRICS.
Selain itu, BRICS berkontribusi pada stabilitas keuangan global melalui pembentukan New Development Bank (NDB), yang menyediakan mekanisme pembiayaan pembangunan yang lebih inklusif serta alternatif dalam transaksi perdagangan global. Hal ini penting dalam mendorong multipolaritas dan distribusi pengaruh global yang lebih merata.
Indonesia memandang BRICS sebagai pilar penting untuk stabilitas global dan sebuah harapan di tengah situasi geopolitik yang kompleks saat ini. BRICS mencakup 40 persen dari populasi dunia, lebih dari 3,2 miliar jiwa, yang memberikan potensi besar untuk menciptakan pasar domestik yang luas, terutama di India, China, dan Brasil.
Secara ekonomi, BRICS menyumbang lebih dari 32 persen PDB global berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP), melampaui kontribusi negara-negara G7 yang berada di kisaran 30 persen. Setiap anggota BRICS memiliki keunggulan spesifik; misalnya, China sebagai penggerak industri dan teknologi, India unggul dalam jasa dan teknologi informasi, Brasil sebagai lumbung pangan, Rusia merupakan kekuatan energi, dan Afrika Selatan sebagai pintu gerbang ke benua Afrika.
Manfaat dan Pengaruh Indonesia dalam BRICS
Indonesia hadir di BRICS sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN dan anggota G20, memberikan legitimasi diplomatik yang lebih luas dan posisi tawar yang lebih kuat di forum internasional. Keanggotaan Indonesia di NDB membuka peluang untuk pembiayaan infrastruktur hijau, energi terbarukan, dan transformasi industri dengan model yang lebih fleksibel dibandingkan lembaga lainnya.
Selain itu, Indonesia dapat menambah nilai strategis BRICS dengan pasar domestik yang besar serta sebagai pemasok komoditas energi, mineral, dan pangan. Akses yang lebih luas ke pasar anggota BRICS menjadi keuntungan tambahan bagi Indonesia.
Dalam perannya sebagai anggota BRICS, Indonesia dapat memaksimalkan akses pembiayaan NDB untuk transformasi hijau, memperluas perdagangan antar negara anggota, dan mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas batas. Indonesia juga berpotensi menjadi mediator antara BRICS dan ASEAN serta negara-negara Barat, menjaga keseimbangan dengan menerapkan politik bebas-aktif.
Bergabungnya Indonesia dengan BRICS bukan berarti mengesampingkan kerja sama dengan negara-negara Barat, melainkan menambah ruang diplomasi agar isu-isu global diatasi melalui suara kolektif negara berkembang. Namun, Indonesia perlu melindungi kepentingan domestiknya dengan kebijakan industri yang baik serta transparansi dalam tata kelola.
Membangun Fondasi Ekonomi Global dan Kawasan Timur
Indonesia menegaskan bahwa keikutsertaannya dalam BRICS bukanlah langkah konfrontatif, melainkan sebagai wadah kolaborasi antara negara-negara berkembang. Pengamat Hubungan Internasional, Teuku Rezasyah, menyatakan bahwa Indonesia harus menekankan bahwa BRICS berlandaskan pada kesepahaman ekonomi dan peningkatan kualitas pembangunan, bukan untuk bersaing dengan blok ekonomi lainnya.
BRICS juga berkomitmen untuk mematuhi aturan hukum internasional, termasuk ketentuan WTO, agar setiap langkahnya sejalan dengan prinsip tata kelola global yang baik. Indonesia diharapkan dapat mendorong reformasi ekonomi di dalam BRICS untuk memperkuat ketahanan kolektif dan mendekatkan kinerja ekonomi anggota dengan China sebagai motor utama BRICS.
Dengan mengusung pembangunan berbasis maritim, Indonesia dapat memajukan kawasan Timur sebagai pusat pertumbuhan baru yang memberikan manfaat bagi anggota BRICS dan masyarakat internasional. Melalui langkah diplomasi yang terarah, Indonesia berupaya menjadikan BRICS sebagai wadah kerja sama yang positif, inklusif, dan patuh pada hukum internasional.
Koordinasi internal dan penguatan solidaritas antar anggota BRICS juga menjadi kunci agar BRICS dapat berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang global yang efektif.




