Peningkatan Pinjol Selama Ramadhan Didominasi Kebutuhan Konsumtif
Sumber Foto: republika.co.id
Lifestyle

Peningkatan Pinjol Selama Ramadhan Didominasi Kebutuhan Konsumtif

Cakra Media - Dalam 2 tahun berturut-turut, pinjol selama Ramadhan didominasi kebutuhan konsumtif.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti

Wanita melakukan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan konsumtif. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyaluran pinjaman online (pinjol) tercatat meningkat selama bulan Ramadhan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tren kenaikan pinjol terjadi dalam dua tahun berturut-turut, yaitu pada Ramadhan 2024 dan 2025, dengan penyaluran yang masih didominasi pendanaan konsumtif.

Pakar ekonomi syariah IPB University, Dr Ranti Wiliasih, mengatakan fenomena maraknya pinjol saat Ramadhan cenderung dipengaruhi oleh rasa FOMO (fear of missing out), keinginan mengikuti tren, serta kecenderungan meniru gaya hidup orang lain. Menurutnya, Ramadhan yang identik dengan peningkatan konsumsi sering kali mendorong masyarakat meningkatkan pengeluaran. Sayangnya, tidak semua peningkatan tersebut diimbangi dengan kemampuan finansial yang memadai.

Baca Juga

Praktik Pinjol Ilegal Marak, AFPI Gelar Program Pindar Mengajar

Psikolog Ungkap Kaitan Puasa dan Kesehatan Mental

Tragedi Pembacokan di UIN Suska Riau, Saat Harapan Skripsi Terhenti oleh Sabetan Kapak Buta

"Sebagian besar pinjol digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan produktif, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (27/2/2026).

Gunawan Witjaksono, selaku Rektor Cyber University mengatakan, mudahnya mendapat uang dari pinjol, bisa mengatasi masalah finansial secara cepat. Namun hal itu jadi masalah baru bagi Guru dan menambah beban dari Guru. Kemampuan mengelola keuangan sangat penting, Guru juga harus memahami risiko dan persyaratan pinjaman online. - (dok Cyber University)

Ranti menyebut pinjaman untuk kebutuhan konsumtif seharusnya dihindari. Pinjaman hanya layak dipertimbangkan dalam kondisi mendesak, seperti kebutuhan medis, musibah, atau bencana.

la menjelaskan, pinjol yang awalnya dianggap sebagai solusi cepat justru bisa menjadi sumber persoalan baru ketika peminjam tidak mampu melunasi kewajiban tepat waktu. Apalagi, kebutuhan hidup lain yang lebih mendesak sering kali muncul di tengah masa pelunasan.

"Masalah semakin bertambah ketika bunga pinjaman meningkat, sehingga utang semakin membengkak," kata Ranti.

Selain beban bunga, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah praktik penagihan yang tidak etis, seperti pencemaran nama baik, penyebaran data pribadi, hingga teror kepada peminjam maupun kerabatnya. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga kesehatan mental.

Ranti juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial masing-masing, "Jangan malu jika gaya hidup kita berbeda dari orang lain. Justru mestinya malu jika berutang untuk hal-hal tidak penting hanya karena ingin terlihat keren," kata dia.

Bagi masyarakat yang sudah terlanjur terjebak pinjol, ia menyarankan mencari alternatif pinjaman tanpa bunga dengan jangka waktu pelunasan yang lebih panjang untuk menutup utang pinjol tersebut. "Pinjaman talangan ini bisa meringankan beban dan memberi ketenangan sementara, karena tejebak pinjol dapat sangat mengganggu dan merusak kesehatan mental," ujar Ranti.

la mengajak masyarakat untuk membiasakan hidup sesuai kemampuan agar keuangan tetap sehat dan hati lebih tenang. "Karena hanya dengan ketenangan kita akan selalu bersyukur kepada Allah SWT," kata Ranti.

Ikuti Whatsapp Channel Republika

Advertisement

mekanisme emosi

keputusan keuangan

investasi bodong

kerugian ekonomi

pembiayaan pinjol

kesejahteraan mental

ramadhan dan pembiayaan

sektor produktif

kebutuhan masyarakat

ramadhan 2026

recharge iman

Berita Terkait

Rejogja - 03 June 2026, 07:49

Polda Jateng Bekuk 11 WNA dan 27 WNI Pelaku Penipuan Love Scamming, Tipu Korban Rp 41,1 Miliar

Rejabar - 02 June 2026, 13:07

Kinerja Industri Jasa Keuangan di Jawa Barat Tetap Solid

Ekonomi - 02 June 2026, 08:57

Waspada Penipuan, Investor Diminta tak Tergiur Janji Untung Besar

News - 18 May 2026, 13:12

Bapemperda DPRD DKI Sampaikan Hasil Pembahasan Dua Ranperda

Ekonomi - 17 May 2026, 09:56

Pertamina Tambah 5,8 Juta Tabung LPG 3 Kg Selama Libur Panjang

Ameera - 27 April 2026, 16:41

Bantu Anak Hadapi Stres Sekolah dengan 5 Langkah Praktis Ini

Ameera - 18 April 2026, 09:43

Psikolog: Perasaan Sensitif Jadi Sinyal Diri Butuh Diperhatikan

Ekonomi Syariah - 13 April 2026, 18:20

Transaksi Bank Mega Syariah Tembus Rp243 Miliar Selama Ramadhan

Berita Lainnya

Ekonomi - Kamis , 04 Jun 2026, 21:47 WIB

Industri Bakery Mulai Adopsi Sawit Berkelanjutan, Zeelandia Kantongi Sertifikasi RSPO

Ekonomi - Kamis , 04 Jun 2026, 20:01 WIB

Rupiah Melemah dan Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu Mulai Kewalahan

Ekonomi - Kamis , 04 Jun 2026, 19:54 WIB

Pakar: Kepastian Harga Bantu Rumah Tangga dan UMKM Kelola Anggaran

Ekonomi - Kamis , 04 Jun 2026, 19:47 WIB

Unilever Tanggapi Dampak Tren Pelemahan Rupiah terhadap Inflasi dan Harga Produk

Ekonomi - Kamis , 04 Jun 2026, 18:48 WIB

Mulai Juni, Whoosh Lengkapi Layanan dengan Dining Car