Pemerintah Berkomitmen Cegah Kasus Bunuh Diri Siswa Terulang
ISTANA Kepresidenan menegaskan kasus siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang diduga bunuh diri tidak boleh terulang. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah mengaku prihatin dan menilai kejadian semacam itu semestinya tidak terjadi.
Ia menegaskan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatiannya terhadap kasus tersebut. "Bapak Presiden menaruh atensi dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal yang semacam ini dapat kita antisipasi," ucap Prasetyo di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu malam, 4 Februari 2026.
Istana, menurut politikus Partai Gerindra ini, berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian hingga Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk menindaklanjuti atau melakukan penanganan terhadap keluarga korban. "Terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali,“ kata Prasetyo.
Seorang anak kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebelumnya mengakhiri hidup dengan meninggalkan sepucuk surat, pada penghujung Januari lalu. Surat itu ditujukan kepada ibunya yang berinisial MGT, 47 tahun. Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya.
Korban yang berusia 10 tahun diketahui tinggal bersama neneknya. Sementara ibunya adalah orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan serabutan. Sang ibu mengurusi lima anak, termasuk korban yang telah meninggal.
Menurut laporan Harian Kompas pada 3 Februari 2026, korban putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Saat korban meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10 ribu, ibu korban menjawab bahwa mereka tak punya uang.
Menyoal penyebab korban mengakhiri hidupnya, Prasetyo Hadi meminta menunggu hasil investigasi aparat penegak hukum. "Kalau berkenaan dengan masalah penyebab terjadinya tragedi tersebut, kami menyebutnya seperti itu, biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian, untuk melakukan pendalaman," ujar Prasetyo.
Dia menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi pembelajaran. "Memang barangkali kita harus meningkatkan kepedulian sosial di antara kita semua dari setiap level tingkatan," tutur Prasetyo.




