Mempawah Resmi Jadi Poros Baru Industri Aluminium Indonesia dengan Investasi Rp104 Triliun
Jakarta - PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) telah melaksanakan groundbreaking untuk Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit, alumina, dan aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada 6 Februari 2026. Proyek ini menjadi langkah strategis INALUM bersama Grup MIND ID dalam mendukung kebijakan hilirisasi mineral nasional sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, mengungkapkan bahwa hilirisasi ini akan meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam pasar aluminium global. Ia menargetkan pencapaian swasembada aluminium pada tahun 2030. "Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia," ungkap Melati.
Fasilitas yang dibangun terdiri dari dua bagian utama, yaitu Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan Smelter Aluminium. SGAR Fase 2, yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia, anak perusahaan INALUM dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun, yang akan meningkatkan total kapasitas domestik menjadi 2 juta ton alumina per tahun.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, bijih bauksit sebanyak 6 juta ton per tahun akan dipasok dari area Izin Usaha Pertambangan PT Aneka Tambang Tbk di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Sumber listrik untuk Smelter Aluminium akan disuplai oleh PT Bukit Asam Tbk.
Pembangunan Smelter Aluminium di Mempawah direncanakan memiliki kapasitas produksi 600.000 ton per tahun, yang semuanya akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Jika digabungkan dengan produksi dari Smelter INALUM di Kuala Tanjung, total kapasitas produksi aluminium INALUM akan mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun.
Proyek ini memiliki nilai investasi sebesar Rp104,55 triliun (setara dengan USD 6,23 miliar) dan diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan bahan baku aluminium nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium global. Selain itu, proyek ini diperkirakan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp71,8 triliun per tahun dan penerimaan negara sekitar Rp6,6 triliun per tahun.
Dengan estimasi mampu menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal melalui peningkatan lapangan kerja dari tahap konstruksi hingga operasional.
Groundbreaking fasilitas ini menunjukkan komitmen INALUM dan Grup MIND ID dalam mengakselerasi hilirisasi mineral nasional secara berkelanjutan. INALUM optimis bahwa dengan dukungan kebijakan pemerintah dan sinergi antar korporasi, ekosistem aluminium nasional yang mandiri dan berdaya saing global dapat terwujud dalam jangka panjang.




