Membawa Tumbler: Dari Tren Menjadi Budaya Peduli Lingkungan
Berita Lain
Madiun
Oleh - Nia Febmawatin,
Editor - Imam Malik
RRI.CO.ID, Madiun: Kebiasaan membawa tumbler atau botol minum sendiri kini semakin terlihat di berbagai aktivitas masyarakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa, pekerja kantoran hingga ibu rumah tangga pun mulai menjadikan tumbler sebagai barang yang hampir selalu dibawa saat beraktivitas. Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan, apakah membawa tumbler hanya sekadar tren karena ikut-ikutan atau sudah berkembang menjadi budaya baru di Indonesia?
Akademisi dari Universitas PGRI Madiun, Dr. Welinda Yuhanna, M.Si., menjelaskan bahwa membawa tempat minum sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu masyarakat sudah terbiasa membawa botol minum sendiri, hanya saja istilah “tumbler” kini lebih populer seiring perkembangan desain dan gaya hidup modern.
Menurutnya, tren penggunaan tumbler memang awalnya berkembang di kota-kota besar. Tingginya penggunaan plastik sekali pakai mendorong berbagai perusahaan dan instansi mulai mengajak masyarakat membawa botol minum sendiri sebagai upaya mengurangi sampah plastik. Tren yang dilakukan terus-menerus oleh banyak orang dalam jangka panjang memang berpotensi berubah menjadi budaya.
“Awalnya memang tren, terutama di kota besar misal Jakarta, Bali, atau Surabaya. Karena penggunaan plastik sangat tinggi, banyak perusahaan mulai mengajak karyawan membawa tumbler untuk mengurangi sampah plastik. Lama-lama kebiasaan itu berkembang dan bisa menjadi budaya. Sekarang kita lihat di mana-mana orang membawa tumbler, di sekolah, kampus, kantor, bahkan saat ke mal,” jelasnya.
Fenomena ini juga terlihat dari semakin banyaknya tumbler yang dijadikan souvenir acara, mulai dari seminar hingga pernikahan. Hal tersebut menunjukkan adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penggunaan barang yang dapat dipakai berulang kali.
Namun demikian, ia mengingatkan agar penggunaan tumbler tetap bijak dan sesuai fungsinya. Jika jumlah tumbler di rumah terlalu banyak hingga tidak terpakai, sebaiknya diberikan kepada orang lain agar tetap bermanfaat dan tidak menjadi barang mubazir.
“Tapi kalau sudah overload ya ada baiknya mungkin mulai kita distribusikan, kita berikan ke orang lain juga enggak apa-apa yang penting bisa bermanfaat deh untuk sesama gitu. Karena memang ini jadi kayak bukti ya, bahwa banyak orang yang memberi souvenir. Itu bukti bahwa kesadaran dari masyarakat di Indonesia itu juga luar biasa banget” tambahnya.
Pada akhirnya, membawa tumbler bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Aksi kecil ini diyakini bisa memberikan dampak besar bagi keberlanjutan bumi.
Kata Kunci / Tags
airminum budaya tren tumbler




