Kualitas Infrastruktur di Tuban Dipertanyakan, Jalan Poros Desa Jebol Kurang dari Setahun
Sumber Foto: Ketik.com
Poros Berita

Kualitas Infrastruktur di Tuban Dipertanyakan, Jalan Poros Desa Jebol Kurang dari Setahun

KETIK, TUBAN – Di tengah upaya pemerintah Kabupaten Tuban yang dipimpin oleh Bupati Aditya Halindra Faridzky untuk memperbaiki infrastruktur, sejumlah proyek pembangunan infrastruktur justru menunjukkan hasil yang mengecewakan. Meskipun pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama sejak periode 2020–2024, tampaknya ada masalah serius dalam pelaksanaannya.

Slogan "Bangun Desa Noto Kota" yang diusung oleh pemerintah kabupaten dimaksudkan untuk mendorong kemajuan desa dan mengatur kota agar lebih nyaman. Namun, kenyataannya di lapangan, terdapat sejumlah kendala yang menghambat pencapaian tujuan tersebut. Kurangnya pengawasan yang ketat, rendahnya etos kerja dari konsultan dan dinas terkait, serta pengawasan yang terbatas dari aparat penegak hukum, menyebabkan beberapa proyek yang dibiayai APBD Tuban tidak berjalan dengan optimal.

Akibatnya, banyak kontraktor yang mengambil kesempatan untuk mengerjakan proyek dengan cara yang kurang baik, khususnya di daerah terpencil. Salah satu contoh yang jelas terlihat adalah kerusakan pada sejumlah infrastruktur yang baru selesai dibangun kurang dari setahun yang lalu. Hal ini diduga disebabkan oleh kualitas material yang buruk atau tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.

Kerusakan Jalan Poros Desa Mander–Plajan

Proyek peningkatan jalan dan pembangunan tembok penahan tanah di ruas jalan poros desa Mander–Plajan, Kecamatan Tambakboyo, adalah salah satu contoh nyata. Pekerjaan yang dilaksanakan oleh rekanan dari Bidang Bina Marga Dinas PUPR-PRKP Kabupaten Tuban antara Juli hingga November 2024 kini sudah mengalami kerusakan signifikan.

Dengan anggaran senilai Rp 1,1 miliar yang bersumber dari APBD 2024, proyek ini dikerjakan oleh PT Era Jaya Bersama. Namun, identitas lengkap dan alamat kantor perusahaan tersebut tidak dapat ditemukan.

Salah seorang petani setempat, Jono, mengungkapkan ketidakpahaman mengenai kapan tepatnya jalan tersebut mulai mengalami kerusakan. Ia menuturkan bahwa jalan poros desa Mander–Plajan terletak jauh dari keramaian, sehingga kerusakannya baru terlihat belakangan. "Boten ngertos pak (tidak tahu pak), rusaknya sudah lama sehingga ditanam pohon sebagai petanda rusaknya cor jalan tersebut," ujarnya saat menuju ladangnya.

Pengalaman berbeda disampaikan oleh Wahyudi, seorang pengguna jalan yang awalnya merasa bangga dengan pembangunan jalan di daerahnya. Namun, kebanggaannya berubah menjadi kekecewaan ketika menyaksikan material jalan yang baru satu tahun digunakan kini sudah mulai rusak. "Kami sebagai warga biasa, merasa senang atas dibangunnya jalan ini. Tapi sayangnya baru setahun sudah pada rusak keluar material batu kerikilnya,” keluh Wahyudi kepada awak media.

Dalam penelusuran lebih lanjut, selain proyek TPT tahun 2024 yang mengalami kerusakan, juga ditemukan paket DAK tahun 2023 yang berkaitan dengan pembangunan prasarana pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Tuban. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan dalam pengawasan dan kualitas konstruksi bukan hanya terjadi di satu lokasi saja, melainkan dapat menjadi masalah yang lebih luas di banyak proyek pembangunan infrastruktur di Kabupaten Tuban.