Kebiasaan Gen Z Bawa Orang Tua Wawancara Kerja: Tanda Kesiapan atau Ketidakmandirian?
Masuknya Gen Z ke dunia kerja membawa dinamika baru dalam proses pencarian kerja. Salah satu fenomena yang belakangan menarik perhatian adalah kebiasaan sebagian Gen Z membawa orang tua saat menghadiri wawancara kerja.
Fenomena ini terungkap melalui survei yang dilakukan oleh Resumetemplates.com terhadap 1.000 pencari kerja berusia 18 hingga 23 tahun. Hasilnya menunjukkan 77% responden mengaku pernah membawa orang tua ke wawancara kerja.
Sebagian responden bahkan menyebut kebiasaan tersebut dilakukan secara rutin, bukan hanya dalam situasi tertentu. Temuan ini seolah menandakan bahwa keterlibatan orang tua dalam proses pencarian kerja Gen Z bukan lagi kasus yang jarang terjadi.
Dari sudut pandang dunia profesional, praktik ini kerap dipersepsikan negatif. Kepala Strategi Karier Resumetemplates.com Julia Toothacre menilai kehadiran orang tua dalam wawancara dapat menimbulkan kesan kurang mandiri di mata perekrut.
“Sebagian besar perusahaan kemungkinan tidak merasa nyaman dengan situasi tersebut. Namun, dalam organisasi kecil, toleransi mungkin saja terjadi, meskipun tidak dapat dianggap sebagai hal yang umum,” jelas Toothacre kepada CBS Miami, dikutip Kamis (5/2/2026).
Pandangan berbeda disampaikan oleh pelatih pencarian kerja, Bryan Golod, yang menilai hal ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada Gen Z. Menurutnya, masalah justru terletak pada sistem yang belum membekali pencari kerja dengan keterampilan wawancara secara memadai.
“Banyak pencari kerja lintas generasi, tak terkecuali profesional berpengalaman, juga kesulitan menghadapi wawancara meski memiliki kompetensi yang baik. Ini karena wawancara kerja tak hanya menilai latar belakang pendidikan dan pengalaman, tetapi juga kemampuan membangun koneksi personal serta menciptakan kesan yang relevan,” ujar Golod.
Fenomena Gen Z membawa orang tua ke wawancara kerja pada akhirnya membuka diskusi yang lebih luas tentang kesiapan sistem pendidikan dan rekrutmen dalam membekali generasi muda.
Alih-alih semata dipandang sebagai penyimpangan, kondisi ini dapat menjadi sinyal perlunya penguatan keterampilan nonteknis agar pencari kerja lebih siap menghadapi dunia profesional yang terus berubah.




