Indonesia Memperkuat Diplomasi Digital di APT 2025
Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia berkomitmen untuk menjadi kekuatan utama dalam arsitektur digital di kawasan dengan menginisiasi poros diplomasi digital Asia dalam forum Asia-Pacific Telecommunity (APT) Ministerial Meeting 2025 yang berlangsung di Tokyo, Jepang.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mewakili Indonesia dalam serangkaian pertemuan bilateral strategis dengan Jepang, Iran, dan Malaysia. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antarnegara di berbagai bidang, termasuk kecerdasan artifisial, infrastruktur digital, dan tata kelola data.
Meutya Hafid menegaskan, "Indonesia percaya bahwa masa depan digital yang adil dan memberdayakan hanya bisa dibangun melalui investasi pada masyarakat, penguatan kapasitas lokal, dan kemitraan lintas negara yang saling melengkapi. Kita tidak boleh memperlebar jurang digital—justru harus menjembataninya secara strategis."
Pertemuan dengan Iran dan Malaysia
Dalam pertemuan dengan Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Republik Islam Iran, Sattar Hashemi, Meutya menekankan kesiapan Indonesia untuk menjadi mitra teknis dan sumber rujukan kebijakan digital di kawasan. Ia mengusulkan pembentukan mekanisme kerja sama teknis yang mencakup pertukaran pakar, riset bersama, dan penyusunan kebijakan digital berbasis data.
Meutya mengungkapkan, "Sebagai negara yang tengah menjadi acuan dalam pembangunan ekosistem digital di Asia, Indonesia siap berbagi praktik baik dan pengalaman konkret untuk membangun sistem digital yang resilien, terbuka, dan pro-pelayanan publik."
Kerja sama strategis berlanjut dengan Malaysia, di mana Meutya bertemu dengan Menteri Komunikasi Malaysia, Datuk Ahmad Fahmi bin Mohamed Fadzli. Indonesia mendukung penuh penyelenggaraan ASEAN AI Malaysia Summit 2025 yang dijadwalkan pada bulan Agustus mendatang, forum ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola kecerdasan artifisial di kawasan ASEAN.
"AI bukan sekadar teknologi, tetapi alat penting untuk membentuk masa depan digital yang inklusif dan manusiawi. Indonesia siap berkolaborasi dalam penyusunan standar regional, pengembangan talenta digital, dan harmonisasi kebijakan lintas negara," tambah Meutya.
Kerjasama dengan Jepang
Hubungan antara Indonesia dan Jepang juga diperkuat melalui pertemuan dengan Menteri Negara Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, Adachi Masashi. Meutya menyampaikan apresiasi atas dukungan strategis dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam pembangunan infrastruktur digital Indonesia. Ini termasuk proyek pemasangan kabel serat optik bawah laut Jawa-Kalimantan dan pelatihan pertahanan siber.
"Latihan pertahanan siber bersama JICA di Jakarta Januari lalu adalah bukti konkret bahwa kolaborasi dapat ditransformasi menjadi resiliensi bersama. Kini saatnya kita naik kelas ke agenda yang lebih visioner, seperti pengembangan AI untuk pelayanan publik dan tata kelola digital lintas batas," ungkap Meutya.
Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk membentuk nota kesepahaman (MoU) baru dengan Jepang di bidang identitas digital, perlindungan data, dan regulasi kecerdasan artifisial. Selain itu, Indonesia mendorong pembentukan platform kerja sama multilateral di bawah naungan APT maupun ASEAN–Japan Dialogue.
Dengan menjadi negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dan ekonomi digital yang tengah berkembang pesat, Indonesia menegaskan peran aktifnya dalam membentuk arsitektur kerja sama digital regional yang inklusif dan berkelanjutan. Meutya menutup pernyataannya dengan menyatakan, "Dengan semangat gotong royong, Indonesia menawarkan kepemimpinan yang kolaboratif dalam membangun tata kelola digital yang tangguh, aman, dan berpihak pada kepentingan masyarakat."




