Din Syamsuddin Usulkan Peradaban Islam dan Tiong Hua Jadi Alternatif Poros Baru Perdamaian Global
Sumber Foto: republika.co.id
Poros Berita

Din Syamsuddin Usulkan Peradaban Islam dan Tiong Hua Jadi Alternatif Poros Baru Perdamaian Global

Ketua World Peace Forum (WPF) sekaligus Chairman of Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Prof Din Syamsuddin, menyampaikan keprihatinannya terhadap krisis peradaban modern yang dinilai memunculkan kekacauan global, ketidakpastian, serta kerusakan yang bersifat akumulatif.

Menurut Din, situasi tersebut diperparah oleh konflik berkepanjangan, kemiskinan, buta huruf, ketidakadilan, diskriminasi, perang saudara, serta berbagai bentuk kekerasan di tingkat nasional, regional, dan global. Ia menilai pandangan Barat tentang kemanusiaan dan peradaban modern telah mencapai titik balik, yang tercermin dari meluasnya kekecewaan masyarakat.

“Oleh karena itu, peradaban Islam dan Asia sudah waktunya untuk diusulkan sebagai paradigma alternatif untuk menemukan kembali nilai perdamaian, keadilan, dan koeksistensi, keduanya berakar pada moderasi, harmoni, dan saling menghormati,” kata Din di Jakarta, Senin (13/10/2025).

Wasatiyyat Islam dan nilai harmoni

Din menjelaskan, Wasatiyyat Islam merupakan ajaran inti Islam dan fondasi karakter Muslim sebagai Ummatan Wasathan. Konsep ini merujuk pada masyarakat yang adil, sejahtera, damai, inklusif, dan harmonis, dengan pijakan ajaran serta moralitas Islam.

Di sisi lain, Din menyebut peradaban Tiong Hua yang telah berabad-abad memengaruhi pemikiran berbagai bangsa di Asia diyakini dapat menjadi instrumen penyeimbang bagi perkembangan dunia yang lebih harmonis.

Kelanjutan kemitraan melalui World Peace Forum

CDCC dan Cheng Ho Multi Culture Education Trust, kata Din, berkomitmen melanjutkan kemitraan yang telah terjalin sejak 2006 untuk memajukan visi perdamaian bersama melalui World Peace Forum.

Din menyatakan WPF merupakan forum dwitahunan yang mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemimpin dunia, pembuat kebijakan, pemimpin agama, akademisi, aktivis perdamaian, insan media, perempuan, pemuda, hingga pebisnis.

Rekam jejak tema-tema WPF

Din menambahkan, WPF telah digelar sebanyak delapan kali dengan semangat tema umum “One Humanity, One Destiny, One Responsibility”. Sejumlah tema yang pernah diangkat dalam forum tersebut antara lain:

  • Addressing Facets of Violence: What Can be Done? (2008)
  • Mainstreaming Peace Education: Developing Strategy, Policy, and Networking (2010)
  • Consolidating Multicultural Democracy (2012)
  • Quest for Peace: Lessons of Conflicts Resolutions (2014)
  • Countering Violent Extremism: Human Dignity, Global Injustice, and Collective Responsibility (2016)
  • The Middle Path for the World Civilizations (2018)
  • Human Fraternity and the Middle Path as the Foundation for a Peaceful, Just, and Prosperous World (2022)

WPF ke-9 digelar November 2025

Din menyampaikan WPF ke-9 akan diselenggarakan di Hotel Grand Sahid, Jakarta, pada 9–11 November 2025. Forum ini disebut sebagai platform pemersatu bagi dialog peradaban, kerja sama regional, dan pembangunan perdamaian global yang menjembatani nilai-nilai Islam dan Tiong Hua.

Ia juga menyebut pembukaan WPF ke-9 direncanakan dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.

WPF ke-9 mengangkat tema “Considering Wasatiyyat and Tionghua for Global Collaboration”. Tema tersebut, menurut Din, berangkat dari kesadaran kolektif untuk menemukan nilai-nilai alternatif dalam ajaran Islam Wasatiyyat dan pemikiran Tiong Hua guna memperkuat perdamaian, keadilan, dan koeksistensi sebagai kontribusi ajaran Islam dan kearifan Asia bagi dunia.