Aksi Kamisan Memperingati 19 Tahun, Serukan Perlindungan Hak Asasi Manusia
Sumber Foto: persmaporos.com
Poros Berita

Aksi Kamisan Memperingati 19 Tahun, Serukan Perlindungan Hak Asasi Manusia

Pada tanggal 15 Januari 2026, puluhan peserta dari berbagai elemen masyarakat berkumpul di Tugu Golong Gilig, Yogyakarta, untuk memperingati 19 tahun Aksi Kamisan. Dalam acara ini, mereka menyuarakan protes terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang semakin marak. Aksi ini dimeriahkan dengan lantunan puisi, orasi, dan teriakan kompak yang menjadi medium untuk menyampaikan keresahan serta tuntutan publik.

Suara Keresahan Masyarakat

Di tengah aksi tersebut, sejumlah orator menyampaikan kegelisahan masyarakat. Almas, seorang orator dan anggota Indonesia Corruption Watch (ICW), mengekspresikan kekhawatirannya terhadap kondisi HAM di Indonesia. Ia mengkritik putusan hakim yang membebaskan Laras Faizati Khairunnisa, yang divonis enam bulan penjara namun tidak perlu menjalani hukuman tersebut jika tidak mengulangi perbuatan serupa selama satu tahun. Almas menilai putusan ini berpotensi membahayakan demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia.

“Kami mengkhawatirkan ada efek jangka panjang, dalam artian, tidak hanya soal Laras. Tapi, juga bagaimana iklim kebebasan berpendapat publik ke depan,” ujar Almas.

Kebijakan Pemerintah yang Dipertanyakan

Almas juga menyoroti bahwa banyak kebijakan pemerintah saat ini dianggap tidak berpihak pada kepentingan publik. Ia mengungkapkan bahwa praktik pembungkaman terhadap warga negara yang kritis masih terus berlangsung, sehingga menimbulkan ketakutan untuk bersuara di masyarakat.

Senada dengan Almas, Uswatun Hasanah, salah satu inisiator Aksi Kamisan Yogyakarta, juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berbasis pada kepentingan rakyat. Ia menganggap kebijakan yang membatasi kritik terhadap pemerintah sangat merugikan, karena menghalangi penyampaian aspirasi masyarakat kepada lembaga negara.

Kehadiran Peserta yang Meningkat

Uswatun menegaskan bahwa meskipun ada tekanan terhadap pergerakan ini, mereka akan terus berjuang dan tidak akan mundur. “Semakin ditekan, kami akan semakin melawan,” ujarnya.

Jeje, salah satu peserta aksi, juga menyatakan bahwa kehadirannya merupakan bentuk akumulasi kekecewaan terhadap kondisi negara yang dinilai tidak memedulikan pendapat rakyat. “Kondisi negara hari ini memang rusak, tidak jelas arahnya,” ungkapnya.

Bangga dengan Partisipasi Publik

Uswatun mengungkapkan rasa bangga dan terharunya melihat banyaknya peserta yang hadir dalam Aksi Kamisan kali ini. Ia menyoroti meningkatnya jumlah massa aksi, bahkan ada yang datang dari luar kota untuk berpartisipasi. “Walaupun dengan tekanan yang begitu besar, masih banyak yang berani dan tetap menghidupkan api perjuangan,” tuturnya.