Yolmita Deni, Awardee LPDP yang Mengabdikan Diri Sebagai Guru di Sumba
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Yolmita Deni, Awardee LPDP yang Mengabdikan Diri Sebagai Guru di Sumba

Cakra Media - KOMPAS.com - Beasiswa LPDP belakangan menjadi sorotan usai adanya polemik pasangan awardee Arya Pamungkas Iwantoro dan Dwi Sasetyaningtyas.

Pasangan suami istri awardee LPDP itu viral usai Tyas, sapaan Dwi Sasetyaningtyas, mengunggah sebuah video.

Video itu berisi Tyas yang menyampaikan pernyataan kontroversial “cukup aku saja yang WNI, anakku jangan”.

Berbeda dengan Tyas, seorang alumni awardee LPDP bernama Yolmita Deni memilih untuk menjadi guru bahasa Inggris di Sumba usai berkuliah di luar negeri.

Mita, sapaannya, adalah perempuan awardee LPDP PK-86 berdarah Minang kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah.

Ia tamat sarjana Pendidikan Matematika Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, kemudian melanjutkan pendidikan Master of Education di University of Adelaide Australia dan lulus pada 2020.

“Tak seperti jebolan luar negeri kebanyakan yang lumrah mencari pekerjaan prestise di pusat kota besar yang ramai, Mita justru menepi jauh dari sorot lampu keriuhan,” tulis LPDP.

Mita menuntaskan janji pengabdiannya dengan menjadi seorang pengajar di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Dia menjadi guru bahasa Inggris untuk anak-anak prasejahtera di Sumba Hospitality Foundation (SHF).

Lantas, bagaimana kisah Yolmita tersebut?

Kisah awardee LPDP Yolmita Deni

Usai lulus dari Adelaide University pada tahun 2020, Mita menjajal sejumlah profesi di bidang pendidikan.

Ia sempat menjadi pengajar matematika daring yang bertepatan dengan adanya pandemi Covid-19.

Setelah itu, Mita memutuskan untuk menjajal bekerja di sebuah perusahaan konsultasi pendidikan di Yogyakarta.

Saat menjadi konsultan pendidikan tersebut, terdapat sesuatu yang mengganjal untuk dipertanyakan di hatinya.

Mita dibayang-bayangi oleh rencana kontribusi yang pernah ditulis saat mendaftar beasiswa LPDP. Rasa ingin mewujudkannya terus membuncah.