Purwanto: Dari Pemain Timnas Menjadi Pelatih Berkomitmen di PSBI Blitar
BLITAR – Nama Purwanto bukan sosok asing di dunia sepak bola nasional. Mantan pemain tim nasional Indonesia ini kini menapaki babak baru dalam kariernya sebagai pelatih dan pembina usia muda di Blitar. Bersama PSBI Blitar, Purwanto tidak hanya membawa pengalaman panjang, tetapi juga nilai idealisme yang jarang dimiliki pelaku sepak bola modern.
Purwanto lahir di Lampung dari keluarga berdarah Jawa. Ibunya berasal dari Yogyakarta, sementara ayahnya asli Blitar. Meski besar di Lampung, ikatan emosional dengan Blitar tak pernah terputus. Ketertarikannya pada sepak bola tumbuh sejak kecil, dipicu oleh lingkungan dan dukungan sang ayah, yang meski bukan pesepak bola, aktif memfasilitasi kegiatan olahraga di sekitarnya.
“Abah saya tidak pernah memaksa main bola. Tapi beliau memberi ruang, memberi rangsangan, sampai akhirnya saya jatuh cinta dengan sepak bola,” ujar Purwanto mengenang awal perjalanannya.
Perjalanan Panjang sebagai Pemain Profesional
Karier Purwanto sebagai pemain terbilang panjang dan berliku. Ia pernah memperkuat lebih dari 17 klub sepak bola di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Semen Padang FC, Persela Lamongan, Persebaya Surabaya, hingga Arema FC.
Klub yang paling membekas baginya adalah Semen Padang. Di sanalah Purwanto mencatatkan salah satu prestasi terbaik dalam hidupnya dengan mencetak 18 gol dalam satu musim, sebuah torehan yang mengantarkannya ke Tim Nasional Indonesia. Bersama Timnas, Purwanto sempat tampil di berbagai ajang internasional, termasuk SEA Games dan laga-laga di Asia Tenggara hingga Eropa.
“Bagi saya, puncak kejayaan itu bukan soal materi, tapi saat bisa mengenakan seragam timnas dan membela Indonesia,” ucapnya.
Dari Pemain ke Pelatih
Seiring bertambahnya usia dan dihantam cedera, Purwanto mulai memikirkan masa depan. Pada 2009, ia merangkap peran sebagai pemain dan pelatih. Keputusan tersebut menjadi titik balik kariernya. Dunia kepelatihan memberinya ruang baru untuk tetap mengabdi di sepak bola, bukan lagi lewat gol, tetapi melalui pembinaan.
Purwanto dikenal sebagai pelatih yang menolak praktik “uang pembinaan”. Ia menegaskan bahwa pembinaan pemain harus berlandaskan niat membantu, bukan mencari keuntungan. “Uang bisa dicari, tapi amal jariyah itu dibawa sampai akhirat,” tegasnya.
Dedikasi untuk Sepak Bola Blitar
Keputusan Purwanto menetap di Blitar bukan tanpa alasan. Selain faktor keluarga, ia melihat Blitar memiliki potensi besar sebagai lumbung talenta sepak bola. Ia aktif membina pemain muda, banyak di antaranya berasal dari keluarga sederhana. Beberapa anak didiknya kini sukses menjadi pemain profesional, bahkan ada yang lolos menjadi anggota Polri melalui jalur prestasi olahraga.
“Saya ingin anak-anak ini main bola bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk mengangkat martabat orang tuanya,” katanya.
Kini, Purwanto menjadi bagian penting dari perjalanan PSBI Blitar. Ia berharap klub kebanggaan Bumi Bung Karno itu kembali dicintai masyarakat dan bangkit di kancah nasional. Menurutnya, kebesaran klub tidak hanya ditentukan prestasi, tetapi juga dukungan suporter dan kepercayaan publik.
Purwanto menaruh harapan besar pada era baru PSBI Blitar yang mulai berbenah secara manajerial. Ia meyakini, dengan pengelolaan profesional dan dukungan suporter, PSBI Blitar mampu kembali bersaing dan mengangkat nama Blitar di sepak bola Indonesia.
“PSBI itu ada di hati saya. Target awalnya sederhana, dicintai dulu oleh masyarakat Blitar. Kalau itu tercapai, prestasi akan mengikuti,” pungkasnya.




