Purbaya: Utang Tambah untuk Stabilitas Ekonomi, Jangan Kembali ke Krisis 1998
Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan adanya penambahan utang Indonesia. Peningkatan utang dilakukan secara terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah perlambatan global.
“Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan signifikan. Pilihannya yang mana? Ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya,” ujar Purbaya, pekan lalu.
Memang seberapa besar jumlah utang Indonesia saat ini. Mengutip data Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal IV 2025 tetap terjaga meski mengalami kenaikan.
ULN Indonesia tercatat sebesar USD 431,7 miliar, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar USD 427,6 miliar. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh bertambahnya ULN sektor pemerintah, yang mencapai USD 214,3 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut peningkatan tersebut dipicu oleh masuknya modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, seiring masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Pemerintah, kata dia, mengelola ULN secara hati-hati untuk mendukung pembiayaan sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, konstruksi, dan transportasi.
Di sisi lain, ULN swasta justru mengalami penurunan menjadi USD 192,8 miliar, terutama dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan, energi, dan pertambangan. Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia dinilai tetap sehat, tercermin dari rasio terhadap PDB sebesar 29,9 persen dan dominasi utang jangka panjang.
Agar Roda Berputar
Perbesar
Sebelumnya Purbaya menyebut jika kebijakan ekspansi fiskal bersifat sementara sebagai stimulus agar roda ekonomi tetap berputar. Setelah kondisi stabil, pemerintah berkomitmen menyehatkan kembali APBN melalui optimalisasi pendapatan dan efisiensi belanja.
Purbaya juga meminta sektor jasa keuangan tetap optimistis dalam menyalurkan pembiayaan, agar dunia usaha dapat terus berkembang dan pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat.
Pemerintah dan Bank Indonesia pun terus memperkuat koordinasi untuk memastikan pengelolaan utang tetap aman dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.




