Kesempatan Umrah: Menggapai Impian dengan Doa dan Ikhtiar
Cakra Media - Jika ditanya mau ke jalan-jalan atau tidak, tentu saja mau.
Jika ditanya apakah mau ke luar negeri? Ya, tentu saja saya mau. Jepang, Singapura, Paris, Roma, Canada, Turki, dan masih banyak lagi daftar negara yang ingin dikunjungi.
Namun, jika kesempatan itu hanya datang satu kali maka ibadah ke tanah suci yang sudah pasti akan dipilih. Sebagaimama ucapan Ibu, "Pergilah yang jauh, kamu boleh menginjakkan kaki ke mana pun. Kejar cita-citamu! Tapi, sebelum pergi terlalu jauh. Melangkah lah dulu ke untuk ibadah umrah"
Saya hanya termenung. "Boleh ke mana pun? Tapi harus ke Arab dulu? Uangnya dari mana?" Pikir kala itu, yang tujuannya hanya fokus mengejar beasiswa ke luar negeri. Tapi negara tujuannya bukan Saudi, bagaimana bisa umrah? Tabungan saja belum sampai 2 digit. Tapi selalu memberikan keyakinan "Jangan berkecil hati, rezeki tak ada yang tahu. Allah Maha Berkehendak, meski tidak punya uang tapi kita punya doa"
Dahulu, kalimat itu hanya sekadar kalimat. Ingin hanya sekadar ingin pergi. Bukan panggilan hati. Hanya terucap di lidah "Iya aku ingin ke tanah suci, pergi umrah kalau bisa haji" tapi kalimatnya belum datang dari hati.
Tapi satu tahun terakhir, getaran di hati itu muncul. Rasa ingin pergi benar-benar menggugah dan begitu rindu meski belum pernah bertamu. Semua dimulai sejak ramadan tahun lalu.
Hasrat kuat untuk ibadah ke tanah suci dimulai saat saya berkesempatan menjadi asisten penerjemah yang menerjemahkan booklate panduan ibadah haji dari Kerajaan Arab Saudi. Saat itu, mengalih-bahasakan halaman demi halaman panduan membuat saya mendapat gambaran suasana jamaah yang beribadah. Thawaf, sa'i, wukuf, melempar jumrah, hingga merayakan hari raya di tempat terbaik di mula bumi. Saat itu pula, keinginan yang begitu besar muncul. Doa demi doa selalu diselipkan. Meski belum tahu kapan, tapi berbekal kalimat ibu: YAKIN. Maka harapan itu selalu berkobar.
Tapi, sebagimana orang-orang bilang. Doa harus diiringi ikhtiar. Allah akan mengambulkan, tapi juga akan melihat usaha nyata yang dilakukan. Sebagaimana menjemput jodoh. Ikhtiar ibadah ke tanah suci juga dilakukan untuk memantaskan diri agar menjadi hamba yang layak untuk Allah pilih.
Ikhtiar dengan memulai dari beeusaha memahami cara beribadah yang sesuai, menabung meski hanya sedikit demi sedikit, menjaga kesehatan dan melatih ketahanan dengan konsumsi makanan bergizi dan rutin jalan kaki agar kuat, hingga hari ini tiba. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan mengikuti challenge dari Kompasiana untuk bercerita mengenai seberapa besar dan pantas untuk mendapat tiket umrah gratis yang bekerja sama dengan HabasyGo.
Jika bercerita seberapa pantas, barangkali yang bisa menakar kepantasan sesungguhnya adalah Allah. Tapi jika bercerita seberapa ingin, maka sebesar itulah keinginan saya. Terlebih, jika berhasip di challenge ini saya tidak hanya umrah. Tapi mendapat tiket umrah via Adis Ababa dari HabasyGo. Salah satu wana baru beribadah yang menggabungkan pengalaman luar biasa mengenali salah satu negara Afrika yang memiliki sejarah tertua melalui City Tour Adis Ababa untuk jamaah umrah. Jadi, pengalaman ibadah bisa bernilai lebih dengan menambah wawasan baru.
Hal menarik lainnya, saya atau pemenang lain tak perlu takut atau was-was karena HabasyGo memastikan kenyamanan perjalanan jamaah dengan memilih maskapai terbaik dan terpercaya dengan kabin luas, yaitu light umrah via Ethiopian Airlines. Jika saya yang berkesempatan, saya yakin ini akan menjadi perjalanan pertama terjauh saya dan akan menjadi perjalanan yang sangat berkesan.




