Kentongan Hadapi Tantangan di Era Digital: Menjaga Budaya dan Keamanan Komunitas
Sumber Foto: RRI.co.id
Teknologi

Kentongan Hadapi Tantangan di Era Digital: Menjaga Budaya dan Keamanan Komunitas

RRI.CO.ID, Entikong -Sistem kentongan sebagai alat komunikasi tradisional kini menghadapi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital seperti media sosial WhatsApp. Perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin bergantung pada telepon pintar membuat peran alat tradisional ini perlahan mulai berkurang.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulaiman, menyampaikan bahwa perubahan pola komunikasi masyarakat menjadi tantangan utama dalam mempertahankan keberadaan sistem kentongan. Menurutnya, kemudahan akses internet dan penggunaan telepon pintar membuat masyarakat lebih memilih media digital dibandingkan alat komunikasi tradisional.

“Di era digital ini, mempertahankan kentongan berarti menjaga identitas budaya sekaligus memastikan sistem peringatan dini tetap berjalan di masyarakat,” ujar Sulaiman dalam Dialog RRI Entikong menyapa, Selasa 24 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa kentongan selama ini efektif digunakan sebagai penanda situasi darurat seperti kebakaran, banjir, atau gangguan keamanan lingkungan. Namun, tantangan muncul ketika generasi muda dinilai kurang memahami kode bunyi kentongan karena lebih akrab dengan gawai dan aplikasi pesan instan.

“Tidak semua wilayah memiliki jaringan internet stabil, sehingga kentongan tetap relevan sebagai sistem komunikasi darurat berbasis komunitas,” ungkapnya.

Menurut, Sulaiman, solusi yang dapat dilakukan adalah mengombinasikan sistem tradisional dan digital. Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu melakukan edukasi tentang makna kode kentongan sekaligus memanfaatkan grup pesan instan sebagai pendukung penyebaran informasi agar lebih luas dan cepat.

Dengan langkah tersebut, Sulaiman berharap sistem kentongan tetap lestari di tengah arus modernisasi. Sinergi antara tradisi dan teknologi menjadi kunci agar nilai budaya tidak hilang, sekaligus memastikan masyarakat tetap sigap menghadapi berbagai potensi bencana maupun situasi darurat.