Kemenbud Luncurkan Budaya Go! untuk Inovasi Digital dalam Kebudayaan
Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kebudayaan memanfaatkan teknologi digital untuk memajukan kebudayaan, dengan meluncurkan Budaya Go! Kompetisi Inovasi Digital Budaya Indonesia.
Acara peluncuran yang digelar di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A, Kementerian Kebudayaan RI, Senayan, Jakarta, dihadiri jajaran pejabat kementerian, komunitas budaya, akademisi, pengembang teknologi, dan perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah.
Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono menekankan pentingnya menempatkan teknologi dalam posisi yang strategis dalam pengembangan budaya nasional.
“Teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari media kebudayaan itu sendiri. Ia harus menjadi jembatan yang menghubungkan warisan budaya dengan masa depan, tanpa menghilangkan makna dan nilai tradisinya,” kata Basuki, Jumat (24/10/2025).
Basuki mencontohkan dunia wayang dan keris, dua warisan budaya yang mampu bertahan karena selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Wayang tidak pernah mati karena terus menemukan bentuk baru. Begitu juga keris. Saya mencoba mendokumentasikannya lewat film pendek, digitalisasi, dan sertifikat digital agar lebih mudah diakses generasi muda. Itulah wujud bagaimana teknologi memperkuat nilai budaya,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa pelaku budaya harus mampu menempatkan teknologi secara proporsional, baik dalam proses kreatif maupun dalam menjaga autentisitas.
“Kebudayaan yang kuat adalah kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai dan identitasnya,” tegasnya.
Basuki juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pelaku budaya, inovator digital, dan akademisi.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Dunia kebudayaan harus menggandeng dunia teknologi, karena sinergi inilah yang akan melahirkan inovasi dan memperluas jangkauan budaya Indonesia di tingkat global,” ujarnya.
Sementara itu, pelaku ekosistem digital nasional Shinta Dhanuwardoyo menambahkan bahwa kemajuan teknologi justru membuka ruang baru bagi budaya untuk berkembang dan berinteraksi dengan masyarakat luas.
“Teknologi bukan lawan budaya. Justru teknologi menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat pada kekayaan budayanya,” ungkap Shinta.
Menurutnya, definisi budaya kini semakin luas. Tidak hanya mencakup warisan tradisional seperti batik, tarian, atau musik daerah, tetapi juga mencakup budaya digital seperti fashion, konten kreatif, gaming, hingga gaya hidup digital yang menjadi bagian dari ekspresi budaya masa kini.
“Dengan hadirnya teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), AR/VR, dan platform digital, memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia menjadi jauh lebih mudah. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita mengemasnya dengan cara yang menarik, interaktif, dan relevan dengan bahasa generasi muda,” jelasnya.
Sebagai kompetisi inovasi digital, Budaya Go! membuka ruang bagi peserta untuk menciptakan solusi digital yang mendorong pemajuan kebudayaan melalui berbagai cakupan bentuk teknologi digital seperti Web App, Mobile App, Artificial Intelligence (AI), Game AR/VR, atau kombinasi dari semuanya.
Program ini menekankan kolaborasi antara pelaku budaya dan pelaku teknologi mulai dari tim kerja, mentor, hingga dewan juri grand final. Total apresiasi yang disediakan mencapai Rp 450 juta. Peserta akan melalui tahapan seleksi administrasi, pendalaman substansi, pendampingan mentor, hingga penjurian grand final.




