Digitalisasi Pendidikan Harus Perbaiki Sekolah, Bukan Sekadar Proyek dan Rawan Korupsi
Digitalisasi sekolah menjadi program yang terus dikembangkan pemerintah. Namun, ini jangan sekadar memodernkan sekolah, apalagi jadi proyek yang rawan dikorupsi.
Oleh Ester Lince Napitupulu
05 Sep 2025 15:16 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Program digitalisasi dalam pendidikan semakin dianggap krusial saat dunia mengalami pandemi Covid-19. Namun, teknologi digital tidak hanya melengkapi sekolah-sekolah dengan berbagai alat pembelajaran digital terkini, tetapi juga untuk membuat sekolah menjadi lebih baik lagi, tidak sekadar transfer ilmu pengetahuan.
Di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2019-2024 Nadiem Makarim program digitalisasi pendidikan berjalan untuk mengatasi krisis belajar akibat pandemi Covid-19 sekaligus mendukung ekosistem pendidikan yang inklusif dan transparan.
Kala itu, alat-alat teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) diberikan ke sekolah-sekolah. Sejumlah sistem aplikasi pendidikan dikembangkan, misalnya, Platform Merdeka Mengajar (PMM), Rapor Pendidikan, Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS), serta Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (Siplah).
Namun, program digitalisasi tersebut ternoda dengan adanya sangkaan korupsi para pejabat berwenang di Kemendikbudristek saat itu. Bahkan, pada Kamis (4/09/2025), Kejaksaan Agung menetapkan Nadiem sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dalam Program Digitalisasi Pendidikan 2019-2022. Hingga kini, ada lima tersangka yang sudah ditetapkan dalam kasus ini.
Dari informasi yang dilaporkan Kompas.id, di masa Menteri Muhadjir Effendy, ia tidak menjawab surat serupa dari Google yang menawarkan kerja sama tentang pengadaan Chromebook. Sebab, uji coba pengadaan Chromebook tahun 2019 telah gagal dan tidak bisa dipakai untuk sekolah di garis terluar atau daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Atasi ketertinggalan dan kesenjangan
Dalam dunia pendidikan, program digitilalisasi dikembangkan tiap negara. Bahkan, di era kecerdasan buatan (AI), UNESCO mendorong pemanfaatan AI yang bijak untuk mengatasi ketertinggalan dan kesenjangan dalam pendidikan global.
Teknologi digital dapat menjadi alat untuk mewujudkan pendidikan publik yang inklusif dan lebih baik. Integrasi teknologi pendidikan dapat menghasilkan inklusi yang lebih besar, memperluas akses, meningkatkan pemerataan, dan mewujudkan pendidikan yang unggul.
Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, contohnya, pemanfaatan teknologi digital bisa mengatasi hambatan sekolah reguler menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Di akhir 2023, grup Whatsapp yang di dalamnya ada psikolog, tenaga kesehatan, dan AI didesain menjadi aplikasi Jejaring Konseling Online (JEJOO). Aplikasi ini membuat para guru semakin percaya diri melayani anak berkebutuhan khusus yang ada di kelasnya.
Yupid Nuraini, guru siswa kelas VI di SDN 005 Tanjung Palas Utara, bersemangat untuk membantu siswanya, Vika (13), belajar bahasa isyarat. Dia bertanya kepada AI Bernama ”Diko” tentang langkah-langkah untuk mulai mengenalkan bahasa isyarat abjad bagi siswa difabel bisu tuli. ”Dengan JEJOO, saya tidak lagi menebak-nebak. Saya merasa lebih percaya diri karena didampingi oleh sistem yang berpihak pada anak,” ujarnya.
Masuknya teknologi digital dalam dunia pendidikan seperti di Kabupaten Bulungan membuktikan pemanfaatan teknologi yang tak sekadar proyek dapat menjadi teman para guru dan pemangku pendidikan mewujudkan pendidikan inklusif.
Di era Presiden Prabowo Subianto, digitalisasi pendidikan kembali dilanjutkan. Sekolah-sekolah akan dibagi layar televisi interaktif atau interactive flat panel (IFP).
Digitalisasi pendidikan bukan sekadar menghadirkan alat-alat pembelajaran digital hingga ke sekolah-sekolah di pelosok. Saat ini, teknologi akal imitasi bisa menjadi sumber belajar yang tak kalah dari guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Bahkan, AI dapat mempersonalisasi pembelajaran, mendukung siswa penyandang disabilitas, dan meringankan beban administratif guru.
Namun, berdasarkan laporan Global Education Monitoring (GEM) Report, AI juga membuka wilayah pelecehan yang belum terpetakan melalui deepfake, terutama gambar yang meluas ke lingkungan sekolah. Laporan ini juga menunjukkan bagaimana algoritma media sosial memengaruhi kesejahteraan dan harga diri anak perempuan serta memperburuk norma atau stereotip jender yang negatif.
Teknologi digital dapat menjadi alat untuk mewujudkan pendidikan publik yang inklusif dan lebih baik.
Di situlah diingatkan, tanpa kepemimpinan yang kuat, peluang pemanfaatan teknologi digital, terutama AI, dalam pendidikan berisiko tertutupi oleh ancaman pelanggaran privasi, bias algoritma, serta meningkatnya ketimpangan. Penguatan teknologi digital dalam dunia pendidikan harus berangkat dari komitmen untuk menjadikan sekolah lebih baik, bukan sekadar berbasis teknologi.
UNESCO pun mengingatkan para pemimpin supaya memperkuat literasi digital, penilaian etis, dan kemampuan membimbing sekolah melalui perubahan jika ingin mendapat manfaat dari teknologi digital. Fondasi yang tepat dalam literasi digital, yang meliputi kebijakan, infrastruktur, pelatihan, dan keterampilan, diperlukan agar teknologi dapat membantu guru dan siswa membentuk masa depan pendidikan yang lebih cerah dan cerdas.
Sementara itu, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal di acara Ngkaji Pendidikan pekan lalu mengingatkan, pendidikan masa depan harus dibangun di atas moralitas, imajinasi, dan keberanian berpikir otentik. Para guru diajak untuk terus mendidik dengan hati, menyalakan keberpikiran, dan menumbuhkan imajinasi. Hal ini guna melahirkan generasi dengan kemampuan berpikir kritis, moralitas yang kuat, dan kepekaan sosial.
”Bahaya yang paling besar di masa depan bukan karena mesin bisa bepikir seperti manusia. Bahaya yang paling besar adalah ketika manusia berpikir seperti mesin karena, ketika itu terjadi, Anda tidak mempunyai tombol kesadaran untuk kembali menjadi manusia,” tutur Rizal yang juga dosen Universitas Gadjah Mada ini.
digitalisasi pendidikan korupsi pendidikan nadiem makarim teknologi digital kecerdasan buatan korupsi chromebook SDGs SDG04-Pendidikan Berkualitas
Kerabat Kerja
Penulis:
Ester Lince Napitupulu
|
Editor:
Adhitya Ramadhan
|
Penyelaras Bahasa:
Teguh Candra




