Dandi Alvayed Berikan Strategi Meraih Beasiswa Luar Negeri
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Dandi Alvayed Berikan Strategi Meraih Beasiswa Luar Negeri

Cakra Media - RRI.CO.ID, Surabaya — Persaingan ketat dan minimnya kesiapan menjadi permasalahan utama yang kerap dihadapi generasi muda Indonesia dalam upaya meraih beasiswa luar negeri. Dalam program KURMA (Kisah Unik Ramadan) yang disiarkan Pro 1 RRI Surabaya, Rabu, 25 Februari 2026, Dandi Alvayed, PhD Researcher di King Fahd University of Petroleum and Minerals yang bekerja sama dengan Saudi Aramco, mengungkapkan bahwa kegagalan pelamar beasiswa sering kali bukan disebabkan oleh keterbatasan intelektual, melainkan kurangnya strategi dan perencanaan yang matang.

“Banyak pelamar sebenarnya cerdas, tetapi tidak memahami apa yang dicari oleh pemberi beasiswa. Mereka mendaftar tanpa riset mendalam tentang kampus, program studi, dan relevansi dengan tujuan karier mereka,” ujar Dandi.

Ia menambahkan, persoalan klasik lainnya adalah kemampuan berbahasa asing, menyusun personal statement dan proposal riset, juga menjadi faktor penentu untuk meraih beasiswa luar negeri. Karena menurutnya, dokumen tersebut seharusnya mampu menjelaskan visi akademik, kontribusi keilmuan, serta dampak nyata bagi masyarakat setelah studi selesai.

“Beasiswa luar negeri tidak hanya melihat IPK atau ranking kampus asal. Yang dinilai adalah konsistensi perjalanan akademik dan kejelasan rencana masa depan. Apa yang akan Anda lakukan setelah lulus, itu sangat menentukan,” katanya.

Selain aspek akademik, Dandi juga menyoroti kendala psikologis yang kerap muncul, seperti rasa minder, takut bersaing di tingkat internasional, hingga cepat menyerah setelah mengalami penolakan. Padahal, menurutnya, proses seleksi beasiswa merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan ketahanan mental.

“Penolakan itu hal biasa. Bahkan pelamar yang akhirnya diterima beasiswa bergengsi umumnya pernah ditolak berkali-kali. Yang membedakan adalah kemauan untuk evaluasi diri dan mencoba lagi,” tuturnya.

Untuk itu, Dandi mendorong calon pelamar untuk mempersiapkan diri sejak dini, antara lain dengan meningkatkan kemampuan bahasa asing, aktif dalam riset atau kegiatan akademik, membangun jejaring internasional, serta mencari mentor yang berpengalaman di dunia beasiswa.

“Persiapan ideal itu bukan enam bulan, tapi bisa satu sampai dua tahun. Semakin matang persiapan, semakin besar peluang untuk lolos,” katanya.

Untuk itu Ia berharap program ini dapat menumbuhkan optimisme dan semangat generasi muda Indonesia untuk berani melangkah ke kancah pendidikan global.