Ahli Forensik Ungkap Ketidaksesuaian Format Skripsi Jokowi dengan Teknologi 1985
SOLO, KOMPAS.com - Ahli forensik digital Rismon Sianipar menyoroti lembar pengesahan pembimbing skripsi Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kota Solo, Rabu (18/2/2026).
Dalam keterangannya, Rismon menyebut format dan tata letak dokumen tersebut tidak selaras dengan teknologi percetakan yang tersedia pada tahun 1985.
“Bagaimana mungkin produk hand press yang dicetak satu per satu bisa memiliki jarak antar huruf, antar kata, dan tinggi antar baris yang begitu konsisten dan tersentralisasi sempurna,” kata Rismon saat memberikan kesaksian dalam sidang gugatan ijazah dengan mekanisme citizen lawsuit tersebut.
Rismon menjelaskan, analisisnya didasarkan pada sumber primer berupa foto resolusi tinggi yang diambil langsung di ruang 109 Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 April 2025.
Menggunakan metode pattern recognition dan digital image processing, ia menyoroti konsistensi jarak antarhuruf dan tata letak teks yang dinilai terlalu presisi untuk hasil cetak manual era 80-an.
Temukan Tingkat Kemiripan 89 Persen dengan Software Modern
Dalam persidangan, Rismon mempertanyakan klaim yang menyebut dokumen tersebut merupakan hasil cetak hand press atau letterpress.
Menurutnya, karakter tata letak pada dokumen tersebut justru menyerupai hasil pengolah kata modern.
Rismon bahkan melakukan rekonstruksi ulang teks menggunakan perangkat lunak tahun 2025 untuk kemudian dibandingkan dengan dokumen asli.
Melalui metode overlay dan algoritma Scale-Invariant Feature Transform (SIFT) dengan varian fuzzy transform, ia mengklaim menemukan 27 titik kunci yang sesuai antara dokumen pembanding dan hasil rekonstruksi digital.
Tingkat kecocokan yang diperoleh disebut mencapai 89,92 persen.
“Apa yang saya amati menunjukkan teknologi yang jauh di atas tahun 1985,” katanya.
Rismon berpendapat, tingkat kemiripan tersebut terlalu tinggi untuk dua dokumen yang diklaim dibuat dengan teknologi berbeda.
Ia menilai teknologi percetakan yang umum digunakan pada masa itu adalah dot matrix, yang secara teknis menghasilkan karakter huruf berbentuk titik-titik kasar saat citra diperbesar.
Soroti Efek Cekungan pada Kertas
Rismon juga menanggapi klaim mengenai efek cekungan pada kertas yang sering dianggap sebagai bukti otentik penggunaan teknik letterpress atau cetak tekan manual.
Menurut analisisnya, efek serupa saat ini sudah dapat dihasilkan menggunakan teknik digital embossing pada mesin printer modern.
Selain persoalan teknis cetakan, Rismon mengungkapkan bahwa dari citra digital yang dianalisis, ia menemukan fakta tidak adanya tanda tangan penguji pada lembar pengesahan tersebut.
Hal ini menjadi salah satu poin keberatan yang disampaikan di hadapan majelis hakim.
Meski memaparkan sejumlah temuan yang dianggap janggal, Rismon menyatakan bahwa hasil analisisnya bisa jauh lebih akurat apabila diberikan data hasil pindai (scan) langsung dari dokumen asli oleh pihak universitas.
Selama ini, data uji yang digunakannya terbatas pada foto resolusi tinggi yang ia peroleh pada kunjungan tahun lalu.
Sidang perkara gugatan ijazah ini masih terus berlanjut di PN Solo dengan agenda pemeriksaan saksi ahli lainnya guna mendalami bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak.




